Sunday, 7 December 2014

Kawat Gigi Sekadar Tren atau Kebutuhan?

alasan kenapa pasang behel gigi
alasan kenapa pasang behel gigi
Orang yang memakai kawat gigi atu behel semakin sering dijumpai. Penggunaan behel kini menjadi tren, bahkan mereka yang giginya rapihpun memilih untuk mengenakan kawat gigi sebagai aksesoris. Bagai mana fenomena ini terjadi, bagaimana pula aspek kesehatan dan keamanannya?
Drg. Nada Ismah, SpOrt, Pengajar Departemen Orthodenti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Mengakui fenomena tersebut . sekarang masyarakat semakin mengerti bagaimana merawat gigi, salah satunya dengan menggunakan kawat gigi karena pengetahuan dan kesadaran yang meningkat. Disamping itu mereka beranggapan dengan pasang kawat gigi ini prestos-nya. Nada mengatakan ada tiga fungsi kawat gigi. Pertama, fungsi kesehatan, misalnya orang dengan gigi berantakan atau berjejal yang menyebabkan kesulitan saat membersihkannya karena makanan banyak yang terselip sehingga menyebabkan gigi dapat berlubang, gusi meradang dan penyakit ortodental lainnya, maka gigi yang berantakan itu harus dirapihkan.
Kedua, mengembalikan fungsi gigi. Contohnya gigi berjejal atau gigi yang miring karena dicabut lalu tidak dibuat gigi palsunya atau posisi gigi yang maju sehingga terganggu ketika mengunyah atau menimbulkan kelainansendi rahang dibawah telinga. Karena menimbulkan penyakit, maka perawatan ortohodonti diperlukan dengan tujuan mengembalikan fungsi gigi.
Ketiga, alasan estetik atau kecantikan. Biasanya banyak pasien datang dengan keluhan gigi menonjol (Tonggos) maju kedepan, disertai gigi berjejl atau ada gigi yang lebih maju disbanding gigi lainnya.


Bersambung………

Cicak di Dinding dan Keyakinan Utuh

oleh Salim A. Fillah dalam InspirasiRajutan Makna. 20/06/2014

Barang siapa memperbagus hal-hal tersembunyinya, niscaya Allah jelitakan apa yang tampak dari dirinya.
Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah baikkan hubungannya dengan sesama.
Barangsiapa disibukkan oleh urusan agamanya, maka Allah yang kan mencukupinya dalam perkara dunia.
-‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz-
Seandainya kita adalah seekor cicak, mungkin sudah sejak dulu kita berteriak, “Ya Allah, Kau salah rancang dan keliru cetak!”
Sebab cicak adalah binatang dengan kemampuan terbatas. Dia hanya bisa merayap meniti dinding. Langkahnya cermat. Jalannya hati-hati. Sedang semua yang ditakdirkan sebagai makanannya, memiliki sayap dan mampu terbang ke mana-mana. Andai dia berfikir sebagai manusia, betapa nelangsanya. “Ya Allah”, mungkin begitu dia mengadu, “Bagaimana hamba dapat hidup jika begini caranya? Lamban saya bergerak dengan tetap harus memijak, sedang nyamuk yang lezat itu melayang di atas, cepat melintas, dan ke manapun bebas.” Betapa sedih dan sesak menjadi seekor cicak.
Tapi mari ingat sejenak bahwa ketika kecil dulu, orang tua dan guru-guru mengajak kita mendendang lagu tentang hakikat rizqi. Lagu itu berjudul, ‘Cicak-cicak di Dinding’.
Bahwa tugas cicak memang hanya berikhtiar sejauh kemampuan. Karena soal rizqi, Allah lah yang memberi jaminan. Maka kewajiban cicak hanya diam-diam merayap. Bukan cicak yang harus datang menerjang. Bukan cicak yang harus mencari dengan garang. Bukan cicak yang harus mengejar dengan terbang.
“Datang seekor nyamuk.”
Allah Yang Maha Mencipta, tiada cacat dalam penciptaanNya. Allah Yang Maha Kaya, atasNya tanggungan hidup untuk semua yang telah dijadikanNya. Allah Yang Maha Memberi Rizqi, sungguh lenyapnya seisi langit dan bumi tak mengurangi kekayaanNya sama sekali. Allah Yang Maha Adil, takkan mungkin Dia bebani hambaNya melampaui kesanggupannya. Allah Yang Maha Pemurah, maka Dia jadikan jalan karunia bagi makhluqNya amatlah mudah.


“Datang seekor nyamuk.”
Allah yang mendatangkan rizqi itu. Betapa dibanding ikhtiyar cicak yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi sang cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku, dan lebih dahsyat. Jarak dan waktu memisahkan keduanya, dan Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Bebas si nyamuk terbang ke mana jua, tapi Allah bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah bersahaja. Ia tertakdir dengan bahagia, menjadi rizqi bagi sesama makhluqNya, sesudah juga menikmati rizqi selama waktu yang ditentukanNya.
“Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui di mana tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata.”(QS Huud [11]: 6)
Daabbah”, demikian menurut sebagian Mufassir, “Adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang hina bersebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya, liar hidupnya, dan bahkan bahaya dapat ditimbulkannya.” Allah menyebut daabbah di ayat ini, seakan-akan untuk menegaskan; jika binatang-binatang rendahan, terbelakang, kotor, liar, dan berbahaya saja Dia jamin rizqinya, apatah lagi manusia.
***
“Sesungguhnya rizqi memburu hamba”, demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana dicatat oleh Imam Ath Thabrani, “Lebih banyak dari kejaran ajal terhadapnya.”
Ini kisah sebutir garam. Titah Ar Rahman kepadanya adalah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah seorang hamba hina bernama Salim, yang tinggal di Yogyakarta. Betapa jauh baginya, sebab ia masih terjebak di dalam ombak, di Laut Jawa yang bergolak.
Setelah terombang-ambing bersama penantian yang panjang, angin musim bergerak ke timur, menggesernya pelan-pelan menuju pesisir Madura. Dan petani-petani garam di Bangkalan, membelokkan arus air ke tambak-tambak mereka. Betapa bersyukur sebutir garam itu saat ia mengalir bersama air memasuki lahan penguapan. Penunaian tugasnya kian dekat.
Tiap kali terik mentari menyinari, giat para petambak itu menggaru ke sana kemari, agar bebutir yang jutaan jumlahnya kian kering dan mengkristal. Sebutir garam yang kita tokohkan dalam cerita ini, harap-harap cemas semoga ia beruntung dimasukkan ke dalam karung goni. Sebab sungguh, ada bebutir yang memang tugasnya berakhir di sini. Tertepikan bersama becekan lumpur di sudut-sudut ladang garam.
Dan dia terpilih, terbawa oleh para pengangkut ke pabrik pemurnian di Pamekasan. Sebakda melalui serangkaian pembasuhan dan pengisian zat-zat yang konon mendukung kesehatan, dia dikemas rapi, digudangkan untuk menunggu pengepakan dan pengiriman. Betapa masih panjang jalannya, betapa masih lama berjumpa dengan sosok yang ia dijatahkan sebagai rizqi baginya.
Ringkasnya, setelah berbulan, ia malang melintang menuju Jakarta, lalu Semarang, sebelum akhirnya tiba di Yogyakarta. Dari pasar induknya, terlempar ia ke pasar kota, baru diambil pedagang pasar kecamatan akhirnya. Lalu terkulaklah ia oleh pemilik warung kecil, yang rumahnya sebelah-menyebelah dengan makhluq yang ditujunya. Kian dekat, makin rapat.
Ketika seorang wanita, istri dari lelaki yang akan ia tuju dalam amanah yang diembannya, membeli dan menentengnya pulang, betapa haru rasanya. Masuklah ia ke dalam masakan lezatnya, berenang dan melarutkan dirinya. Lalu terdengar suara, “Sayang, silakan sarapan. Masakannya sudah siap.” Dan lelaki itu, bergerak pelan dari kamarnya, menjemputnya dengan sebuah suapan yang didahului doa.
Segala puji bagi Allah, yang memberi titah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah. Segala puji bagi Allah, yang mengatur perjumpaannya dengan makhluq ini sesudah perjalanan yang tak henti-henti. Segala puji bagi Allah, yang menyambutkan doa bagi tunainya tugas yang diembannya.
***
Betapa jarang kita mentafakkuri rizqi. Seakan semua yang kita terima setiap hari adalah hak diri yang tak boleh dikurangi. Seakan semua yang kita nikmati setiap hari adalah jatah rutin yang murni dan tak boleh berhenti. Seakan semua yang kita asup setiap hari adalah memang begitulah adanya lagi tak boleh diganggu gugat.
Padahal, hatta sebutir garampun adalah rizqi Allah yang menuntut disyukuri.
Hatta sebutir garam, menempuh perjalanan yang tak mudah lagi berbulan, untuk menemui pengasupnya yang hanya berpindah dari kamar tidur ke ruang makan. Betapa kecil upaya kita, dibandingkan cara Allah mengirimkan rizqiNya. Kita baru merenungkan sebutir garam, bagaimanakah bebijian, sayur, ikan, dan buahnya? Bagaimanakah katun, wol, dan sutranya? Bagaimanakah batu, kayu, pasir, dan gentingnya? Bagaimanakah besi, kaca, dan karet rodanya?
Maka seorang ‘Alim di Damaskus suatu hari berkata tentang sarapannya yang amat bersahaja, “Gandum dari Najd, garam dari Marw, minyak dari Gaza, dan air Sungai Yordan. Betapa hamba adalah makhluqMu yang paling kaya wahai Rabbana!”
Dia mengingatkan kita pada sabda Rasulullah. “Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya bebarang harta”, demikian yang direkam Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, “Kekayaan sesungguhnya adalah kayanya jiwa.”
Akhirnya, mari kita dengarkan sang Hujjatul Islam. “Boleh jadi kau tak tahu di mana rizqimu”, demikian Imam Al Ghazali berpesan, “Tetapi rizqimu tahu di manakah engkau. Jika ia ada di langit, Allah akan memerintahkannya turun untuk mencurahimu. Jika ia ada di bumi, Allah akan menyuruhnya muncul untuk menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, Allah akan menitahkannya timbul untuk menemuimu.”
Di lapis-lapis keberkahan, ada keyakinan utuh yang harus ditanamkan, bahwa Allah Yang Mencipta, menjamin rizqi bagi ciptaanNya.
***
Ada dua cara Allah mengaruniakan rizqi dalam dua keadaan yang dialami oleh Maryam binti ‘Imran, salah satu wanita termulia sepanjang zaman.
Kita mengenang, betapa agung nadzar istri ‘Imran untuk menjadikan buah hati yang dikandungnya sebagai pengkhidmah di Baitul Maqdis. Yang dia bayangkan adalah seorang anak lelaki yang akan menjadi imam ibadah di Al Quds, pengurai Taurat yang fasih, dan pembimbing ummat yang penuh teladan. Tetapi Allah yang Maha Berkehendak mengaruniakan anak perempuan.
“Maka Rabbnya menerima nadzar keluarga ‘Imran dengan penerimaan yang baik. Allah tumbuhkan dan didik Maryam dengan pengasuhan yang bagus, dan Allah jadikan Zakaria sebagai penanggungjawab pemeliharaannya. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di dalam mihrab, dia dapati ada rizqi di sisinya. Berkatalah dia, “Hai Maryam, dari manakah kaudapatkan ini?” Maryam menjawab, “Ia dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah mengaruniakan rizqi pada siapapun yang dikehendakiNya tanpa hisab.” (QS Ali ‘Imran [3]: 37)
Betapa jua, Allah Yang Maha Tahu tetap menerima nadzar itu. Maka sang Bunda membawa bayi Maryam ke Baitul Maqdis di mana para pemuka Bani Israil, Ahbar, dan para Rahib berkumpul, berharap untuk mendapatkan hak asuh atas Maryam yang yatim. Ketika mereka melemparkan pena-pena dalam undian, Allah mengamanahkan Maryam pada Zakaria.
Maryam tumbuh di lingkungan yang baik, dengan ta’dib yang baik, dibimbing insan terbaik. Jadilah dia seorang ahli ‘ibadah di Mihrab Baitul Maqdis, menjaga kesuciannya, mengkhidmahkan diri untuk rumah Allah. Dengan keyakinan utuh akan kuasa dan kemurahan Rabbnya, bahkan seorang Nabi tertakjub-takjub melihat limpahan anugerah Allah bagi gadis suci ini.
Tapi setiap insan diuji Allah dengan karunia terkait apa yang paling dijunjung tinggi oleh jiwanya. Pun juga Maryam yang begitu taat beribadah, yang lahir batin menjaga kebersihan dirinya, yang kudus dalam hati, fikiran, serta perbuatannya. Allah memilihnya untuk mengandung bayi ajaib, yang tercipta tanpa Ayah, yang menghuni rahimnya tanpa dia terlebih dulu disentuh seorang pria.
Karunia mengandung ujian, dan ujian mengandung karunia. Demikianlah hakikatnya.
Inilah dia di hari itu, berada di tempat yang jauh ke timur, sekira 8 mil dari Mihrabnya di Baitul Maqdis. “Dapatlah kita merasakan”, demikian ditulis Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, “Bahwa hidup Maryam ketika itu memang tersisih jauh dari kaum keluarga. Kegelisahan diri karena terpaan sakit dan kejang yang bertubi datang sebagaimana lazimnya wanita yang akan melahirkan menyebabkan dia mencari tempat yang sunyi dan teduh.”
“Maka rasa sakit menjelang persalinan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, “Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam [20]: 23)
Di bawah naungan pohon itu, perasaannya mengawang, fikirannya melayang. Bahwa anak itu akan lahir, tapi tiada ayah baginya. “Adapun Maryam sendiri percaya bahwa ini adalah kehendak Allah”, lanjut Buya Hamka, “Tetapi apakah kaumnya akan percaya? Siapa pula yang akan percaya? Sepanjang zaman, belum pernah ada perawan yang hamil serta beranak tanpa ada lelaki yang menjadi bapak.”
Maka terlontarlah kalimat yang menyiratkan sesalan atas ketetapan Allah itu, bersebab rasa berat yang menekan-nekan hati dan menyesakkan dadanya. “Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini”, seru Maryam. Yakni sebelum dirinya hamil dengan cara ganjil yang sukar dijelaskan pada kaum Bani Israil yang sebagiannya suka usil.
“Dan aku menjadi barang yang tak berarti lagi dilupakan”, lanjut keluhan Maryam. Sungguh Maryam berharap tidak ada insan yang tahu, tidak ada siapapun yang mengenal, dan tidak sampai menjadi buah mulut orang-orang. “Memang”, jelas Buya Hamka, “Jikalau pencobaan telah memuncak sedemikian rupa, datang saat manusia merasa lebih baik mati saja.”
Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu. Niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS Maryam [20]: 24-25)
Yang pernah bertamu pada Allah dan menjenguk Rasulullah, pastinya telah melihat pohon kurma. Kokoh, gagah, tinggi, dan berruas-ruas sisa tandan di bagian bawahnya. Di Madinah Al Munawwarah, kami pernah mencoba menggoyangkannya, dan batang itu tak bergeming sedikitpun juga. Maka bayangkanlah perempuan yang lemah berdarah-darah setelah melahirkan, serta berada dalam perasaan tak karuan, yang terharuskan mengguncangnya agar buah ranumnya jatuh ke bumi.
Inilah ikhtiyar. Bagi Maryam, ia berat dan sukar.
Tapi iman memanglah yang utama, mentaati Allah harus jadi yang mula-mula. Maka dengan kemurahan dan kasihNya, saat Maryam menghabiskan seluruh sisa tenaganya untuk menggerakkan pangkal pokok yang besar itu, satu demi satu,ruthab pun lepas dari tangkainya.
Sebagian ‘ulama menyatakan, tak sebagaimana ketika dia berada di Mihrab dengan iman yang berseri-seri dan ibadah yang terjaga sekali, ucapan Maryam yang menyesali diri menunjukkan ketaksempurnaan penerimaannya akan ketetapan Allah. Hal itulah yang membuatnya tak mendapat rizqi yang langsung tersaji dari langit, namun harus mengupayakannya dengan meengguncang pokok kurma agar kurma basah di atas sana jatuh ke arahnya.
Allah menjamin rizqi Maryam dalam dua keadaan dengan dua cara penganugrahan. Lalu kita tahu, di lapis-lapis keberkahan, keyakinan yang tak lagi utuh, menambahkan peluh pada jalan ikhtiyar yang harus kita tempuh.

Wednesday, 19 November 2014

Pohon Duren Depan Rumah

ini pohon duren ditanam dihalaman rumah pada hari senin, kata ibu aku ini investasi buat anak cucu, semoga pohonnya berkah buahnya. kita tunggu ceritanya si pohon duren ini semoga dapat tumbuh subur dan banyak buahnya kalau udah musimnya berbuah :)

dipelataran tangga mesjid bani umar - pondok aren

foto ini di ambil ketika hujan di pertengahan bulan november, derasnya hujan yang memberikan keberkahan kepada bumi, kecintaan maha kuasa terhadap penciptaannya, rumput-rumput menghijau lapang di depan rumahmu. ya robb, tanpamu apalah kami, kami mendapatkan melebihi apa yang kami harapkan, engkau memberikan semuanya dengan gratis tanpa ada label harga yang engkau bandrolkan untuk kami. engkau maha pencipta segala keindahan dan kesempurnaan. karena engkaulah keindahan dan kesempurnaan itu.

Tuesday, 30 September 2014

Do'a Ayah Ibu anugerah terindah ANNA Air Mata kerap sebagai Obat

kehadirannya bermula disaat hijau dan kuning membanjiri organ tubuh anna, anna tak mengerti apa maksud dari kehadiran hijau dan kuning terkadang, lelah menerjang merah pun membanjiri masuk dalam kehidupan anna. entah apa yang dipikirkan seorang anak kecil itu dalam keadaannya yang tidak biasa hadir dalam kehidupan teman-teman anna kebanyakan. anna kerap menangis menutupi semak sisi kehidupan yang ayah dan ibunya pun belum mengetahuinya secara pasti. anna tetap bermain di sekitar halaman depan rumah, dan terkadang lingkungannya mengejek anna. "aanna payah, anna tak usah diajak bermain" meskipun anna tak sehero teman bermainnya, anna tak berputus harap.
hingga suatu hari saat usia anna 6 tahun, saat itu anna duduk dibangku sekolah dasar, anna tak mampuh berjalan segagah kawan-kawan angkatannya. anna tetap mendapat ejekan, biarlah anna kawan-kawanmu menertawakanmu, mengejekmu, suatu saat nanti kau akan mengerti arti dari itu semua dan di ujung saatnya nanti semua itu akan menjadi senyuman indah yang tak terlupakan.
anna, dianggap anak emas, mungkin saja bila kau melihat perawakan anna kau pun prihatin memperhatikannya, kau tak akan tega, bahkan kau akan benar-benar menyayanginya. anna anak kecil yang mungil memperoleh kado di setiap menjelang siang setiap harinya, anna tak urungkan niatnya untuk tetap ceria kembali, bahkan pada posisinya di usia 13 tahun anna menerima ujian yang bertubi-tubi, banyak yang anna lalui salah satunya hingga saat itupun anna tersadar pertolongan allah swt adalah keyakinannya untuk tetap melanjutkan cita-citanya. anna kehilangan ayahnya, ayahnya di panggil allah saat itu secara tiba-tiba kesan terindah ayah bagi anna adalah saat ayah selalu menyempatkan diri untuk pulang kerumah saat jam makan siang memberikan suapan hangat dan mengingatkan anna untuk tetap semangat menyikapi apapun yang hadir dalam kehidupan ini nak, yang rajin nak sholatnya dan mengaji ayah akan jauh lebih senang dunia akhirat ayah bilang dalam pesan terakhirnya, ayah anna pun berpesan jadilah anak yang berguna serta bermanfaat bagi kehidupan orang banyak.

Monday, 29 September 2014

Bahagia itu Perlu

Buatlah hatimu merasa bahagia, walaupun dalam keadaan yang semacam apapun. ajaklah hatimu merasakan suka terhadap kondisi apapun.
hati cenderung merasa mengikuti apa yang diinginkan dan apa yang terjadi disekeliling kita.
mulai sekarang ubah pola itu menjadi hati yang bersih menerima apapun bentuk yang ada.
mungkin kali ini sedang kelabu warna yang terlihat namun banyak sekali warna yang indah tanpa sadar, kita kurang peka dalam menikmatinya.
warna dalam lingkungan keluarga, warna dalam lingkungan kemasyarakatan, warna dalam lingkungan pertemanan, ada warna yang sangat ini yaitu warna hati yang dekat dengan iman, dekat dengan Robb kita, hampir tiap saat sebelum detik warna itu memberikan aksen lembut, mendamaikan kolbu, hati merasa terikat dan bergetar ketika kita berjalan mendekatNya, dan tanpa dikira allah swt berlari mendekap hati yang ingin mendekat denganNya.
bersyukur atas segala apapun yang menjadi ketentuannya, alhamdulillah segala bentuk pemberiaanNya.

Monday, 22 September 2014

Rasa Rindu dalam Dzikir

rindu akan kenikmatan berdzikir laksana lahan luas yang tandus dan gersang, hampir-hampir ingin membakarkan sekelilingnya sendiri namun dengan adanya hujan sungguh nikmat karunia yang tak terukur oleh apapun.

Thursday, 18 September 2014

Mengontrol Cairan Ketuban

Selama kehamilan, volume ketuban bisa kurang atau berlebih dan memunculkan hal yang tidak diharapkan. Ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan ke dokter.

Selama kehamilan, janin dalam kantung atau selaput ketuban. Fungsi dari kantung ketuban ini di antaranya adalah melindungi janin dari benturan, member ruang agar tulang bayi berkembang dengan normal, membantu perkembangan paru-paru dan menghindarikan dari terjadinya kompresi (tekanan) pada tali pusat janin. Air ketuban juga berfungsi agar bayi dapat bergerak bebas kesegala arah dengan nyaman di dalam rahim.
Diduga, air ketuban dibentuk oleh sel-sel amnion. Pada awal kehamilan, cairan air ketuban terdiri dari air dan elektronik. Tetapi, air ketuban dapat bercampur dengan cairan lain yang masuk kedalam ruang amnion, misalnya air kencing janin dan cairan otak anensefalus. Air ketuban yang dibentuk, secara rutin dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu cara pengeluaran adalah dengan cara ditelan oleh janin, diobsorpsi oleh usus dan kemudian dialirkan ke plasenta untuk akhirnya masuk kedalam peredaran darah ibu. Karenanya, setelah 12-14 minggu usia kehamilan, air ketuban akan berisi protein, lemak, fosfolipid, urin janin, dan cairan otak anensefalus.
Periksa Volume Ketuban
Cairan ketuban diproduksi sejak awal kehamilan. Volumenya terus bertambah, seiring dengan pertumbuhan janin. Saat usia kehamilan ibu sekitar 33 minggu, volume air ketuban mencapai sekitar 1-1,5 liter dan akan berkurang hingga 200 cc, ketika kehamilan sudah cukup bulan (40 minggu). Saat ketuban pecah, maka air ketuban akan berkurang jumlahnya bahkan bias mengering.
Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) menyarankan, agar ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan pengukuran cairan ketuban. Hal itu terkait dengan kecukupan nutrisi dan oksigen bagi janin dalam kandungan. Volume normal adalah 1 liter. Cairan ketuban akan dikatakan kurang, bila volumenya lebih sedikit dari 500 cc, dan berlebih jika lebih dari 1000 cc,. kelebihan atau kekurangan cairan ketuban, dapat menimbulkan komplikasi pada ibu dan janin.
Oligohydramnios (Air Ketuban Sedikit)
Kekurangan cairan ketuban, biasanya memunculkan keluhan antara lain rembesan cairan ketuban yang mirip seperti keputihan. Cairan ini biasanya keluar berlebih dan terus menerus mengalir, berbau agak anyir, gerakan janin juga terasa jadi lebih keras dan menimbulkan nyeri berlebih pada ibu.
Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi fatal. Jika oligohydramnios terjadi pada trimester pertama kehamilan, berisiko menimbulkan cacat bawaan pada janin, keguguran, kelahiran prematur atau janin meninggal. Jika terjadi pada trimester kedua kehamilan, akam sangat mengganggu tumbuh kembang janin. Dan jika terjadi menjelang persalinan, dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi selama kelahiran. Seperti, tidak efektifnya kontraksi rahim akibat tekanan di dalam rahim akibat tekanan di dalam rahim yang tidak seragam ke segala arah. Ujung-ujungnya, persalinan ibu menjadi lama atau malah ibu gagal bersalin.



 @al_otcdgs..

Dehidrasi Ringan

dehidrasi ringan
Jangan tunggu dehidrasi
Kalau lagi haus terus minum semua orang kebanyakkan sudah pada tau, bahkan ada yang sampe bilang nenek-nenek juga tahu keles… hehehe
Tapi, kalau haus adalah tanda dehidrasi ringan sesuatu respon yang diberikan kepada tubuh, dan membuat kemampuan kognitif menurun, ilmu baru nih ..buat kita ^_^
Pantas saja kalau kurang minum saya sering juga merasakan pusing dikepala, kurang bersemangat, bibirpun mudah pecah-pecah, sampai juga badan terasa hangat, serta sariawan yang amat mengganggu. Makan jadi kurang enak dan hambar terasa… dari beberapa info yang telah saya baca ternyata saya mengalami dehidrasi ringan oleh sebab itu sekarang saya mulai mengubah gaya hidup saya rutin minum air mineral yang cukup.
Bangun tidur sebelum cuci muka dan menggosok gigi saya usahakan untuk minum segelas air mineral, kemudian membiasakan sarapan pagi dan tidak minum teh manis jika belum sarapan karena kalau sudah minum minuman manis akan meningkatkan kadar gula darah yang hanya sifatnya sementara lalu menbuat kadar gula darah saya menjadi menurun kembali, serta enggan untuk bersarapan pagi dengan makan nasi yang mengandung karbohidrat cukup serta nutrisi yang cukup untuk membantu stamina seharian beraktivitas, dengan hanya minum minuman manis di pagi hari tanpa sarapan akan membuat tubuh terasa lemas di pertengahan waktu dalam beraktivitas… siiaaap minum air mineral rutin dan cukup setiap harinya …. !
Siapkan sarapan pagi setiap harinya…!
Siiiap.. tidur dengan cukuppun, membantu mengurangi gejala migren ataupun sakit kepala yang mencengkam… !
Sayangi tubuh kita dengan asupan nutrisi yang cukup dan baik sesuai kebutuhan tubuh kita.. hidup sehat siapa berani… 
Pernah dengar kata supplement !

Pasti pernah dan bahkan sering tentunya, supplement memang yang kita ketahui selama ini secara awam, supplement dapat membantu asupan nutrisi yang dibutuhkan bagi tubuh kita, namun mitos kalau hanya dengan bantuan supplement saja, nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh haruslah lebih banyak dari makanan kita sehari-hari… yuukkk sehatkan tubuh kita dengan membawa masa tua kita kedalam kondisi baik sehat dan terjaga kesehatannya. Bersambung….dulu ah,!